PENGARUH PROGRAM REALITY SHOW (INDONESIA IDOL) TERHADAP KEINGINAN MASYARAKAT UNTUK MENJADI SELEBRITIS
ABSTRAK
TUJUAN PENELITIAN: Keinginan masyarakat untuk menjadi selebritis dipengaruhi oleh karena banyaknya muncul acara reality show yang ada pada saat ini di berbagai stasiun televisi. Salah satunya yaitu Indonesia Idol. Menjamurnya acara reality show di Indonesia bukanlah buah kreativitas atau kecerdasan sang sutradara (biasa disebut ide cerita atau acara) karena semuanya hanya mengimpor dari acara yang pernah muncul di belahan dunia lain. Acara Indonesia Idol jelas mencontek (atau membeli lisensi) American Idol. Impian untuk menjadi bintang merupakan sesuatu yang menggiurkan bagi setiap orang dan melalui reality show impian tersebut dapat diwujudkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh reality show terhadap keinginan masyarakat untuk menjadi selebritis.
Sample dari penelitian ini adalah masyarakat umum, khususnya mahasiswa yang ada di
Penelitan ini menghasilkan informasi bahwa sebagian besar masyarakat umum, khususnya mahasiswa memiliki keinginan untuk mengikuti acara reality show untuk mewujudkan keinginannya menjadi selebritis.
Kata kunci: reality show, keinginan masyarakat, selebritis.
PENDAHULUAN
Ditengah keadaan ekonomi yang masih sulit di
Reality show menyajikan suatu kemewahan yang akan didapatkan apabila telah menjadi selebritis, mulai dari perbaikan ekonomi dan menjadi idola serta dikenal oleh banyak orang. Karena itulah acara Indonesian Idol diminati banyak orang. Peserta akan secara instant menjadi idola masyarakat dengan perhitungan banyaknya SMS yang dikirimkan. Setelah menang peserta akan memperoleh kontrak rekaman, banjir order tampil mengisi acara, uang yang banyak, dan rumah yang mewah.
Oleh karena itu, semua stasiun televisi juga berlomba-lomba membuat acara yang menampung artis-artis baru menjadi pujaan masyarakat. “American Idol” adalah acara pertama yang menampilkan orang-orang biasa menjadi artis pujaan seluruh masyarakat di Amerika. Kesuksesaan acara tersebut hingga membuat negara-negara lain membuat acara yang serupa, hingga
Menurut Theodor Adorno (1994), seorang alumni mahzab
Dalam kontes yang sejatinya merupakan medium pencarian bakat menyanyi ini, penonton diminta untuk mengirim SMS sebanyak-banyaknya kepada peserta yang disukainya. Nantinya, perolehan SMS ini akan menentukan apakah sang penyanyi akan tetap bertahan dalam kompetisi atau harus tereliminasi.
Yang menjadi persoalan bukan lagi kontrol suara atau musikalisasi, melainkan kemampuan persuasif dalam menjaring fans sebanyak-banyaknya. Komentar juri sedikit banyak memengaruhi penilaian terhadap peserta, namun, kekuasaan tetap berada di tangan penonton.
Dalam suatu komunitas budaya populer, menurut Dominic Strinati (1995) dalam bukunya Popular Culture: An Introduction, masyarakat dipicu untuk ‘mengingkari’ upaya berpikir rasional dan menciptakan respon-respon sentimental mereka sendiri. Mereka digiring untuk melawan ‘rangsangan intelektual’ dan dijadikan sebagai sasaran empuk konsumerisme, iklan, impian, dan fantasi yang laku dijual.
Maka tidaklah mengherankan jika penyanyi yang berkualitas bisa saja tersingkir di babak-babak awal, karena hal tersebut bukanlah masalah besar bagi produsen budaya
Televisi, media utama budaya populer, adalah penyalur yang sempurna untuk hal tersebut. Terlebih lagi, karena masyarakat masih terbiasa dengan budaya lisan, maka menonton televisi, yang dilengkapi perangkat audiovisual, adalah kenikmatan yang tak tertandingi. Masyarakat memuja televisi dan idola-idolanya yang tampil di dalamnya lebih dari dirinya sendiri. Dalam hal ini, penonton ternyata sudah ‘mati suri’ dalam pemujaan semu. Masyarakat selalu ‘dihantui’ oleh harapan-harapan yang tidak pasti akan kejadian-kejadian di dalam televisi. Televisi dikenal sebagai media penyampai pesan berbasis audiovisual, yang ditayangkan secara masal sehingga dapat mencapai pemirsa dalam jumlah besar pada saat bersamaan melintasi batas geografis yang luas. Oleh karena itu, program televisi biasanya dirancang untuk mass distribution for common experience, dalam pengertian informasi yang disiarkan dapat diterima oleh sejumlah pemirsa pada saat bersamaan lintas ruang sehingga pemirsa tersebut akan memiliki pengalaman yang sama. Dengan adanya televisi, pemirsa tidak harus pergi ke tempat atau peristiwa tersebut secara langsung, cukup menontonnya di televisi (Heinich,Molenda, Russel, 1991; Gerlach & Ely, 1980).
Reality Show bukanlah program baru dalam pertelevisian, akan tetapi konsepnya telah bergeser dari konsep dasar program tersebut. Pada awalnya reality show mempunyai konsep yang sederhana, yaitu memotret kehidupan orang awam (bukan selebritis), kemudian disiarkan dan ditonton oleh orang banyak. Mereka yang kehidupannya disorot merasa senang dan yang menonton terhibur. Saat ini reality show tidaknya memotret kehidupan orang, reality show pun menjadi ajang kompetisi.
Dampak Positif Reality Show, yaitu: 1. Seperti tujuan semua dari Reality Show yaitu untuk hiburan, maka tayangan reality show dapat memberikan aspek hiburan untuk melepaskan diri dari permasalahan yang berkembang.
2. Reality show dapat menumbuhkan rasa sosial dikalangan pemirsa terhadap orang lain yang menderita yang ditampilkan dalam tayangan tersebut. Seperti yang diharapkan dalam Charity Reality Show.
3. Menjadi salah satu jalan untuk mencapai cita-cita sebagian masyarakat menjadi seorang bintang melalui Reality Show yang bertajuk kontes bakat atau pencarian bintang.
Dampak Negatif Reality Show, yaitu:
1. Tayangan Kontes Bakat yang dilakukan TV meniru atau hanya membeli lisensi dari luar negeri. Sebuah Stasiun TV apabila membuat sebuah acara reality show, walaupun menyebutnya murni ide mereka, tetapi kenyataannya dilakukan setelah melihat tayangan sejenis yang berhasil, jadi bukan ide murni.
2. Popularitas peserta kontes bakat sangat tinggi pada saat kontes tersebut berlangsung, tetapi setelah selesai popularitasnya menurun (untuk beberapa masih dapat mempertahankan popularitas tersebut). Karena manajemen atau stasiun televisi tersebut mengembangkan minat mereka ke arah lain, apakah bintang iklan, atau pemain sinetron.
c. Karena penentuan pemenang dilakukan dari pilihan pemirsa, tidak jarang mereka yang menang kualitas tidak lebih baik dari peserta yang lain sehingga ketika terjun ke dunia seni tidak dapat bertahan lama.
d. Popularitas yang tiba-tiba melonjak tinggi secara psikologis dapat membuat peserta terlalu percaya diri, dan semakin cepat meroket, ketika jatuhnyapun akan semakin cepat dan terasa berat.
e. Dulu, masyarakat dibuat heboh jika ada kontes pencarian bakat, tetapi kini berkurang.
Banyak cara yang dapat dilakukan apabila ingin menjadi seorang selebritis, tidak semua cara akan dikaji, namun hanya sebatas ruang lingkup reality show (ajang pencari bakat) yaitu Indonesia Idol sebagai faktor yang mempengaruhi keinginan masyarakat untuk menjadi selebriti. Berdasarkan ruang lingkup tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh reality show terhadap keinginan masyarakat untuk menjadi selebriti. Diharapkan penelitian ini akan bermanfaat bagi penulis dalam mengembangkan wawasan ilmiah dibidang psikologi.
METODE PENELITIAN
Variabel dalam penelitian ini adalah: Pertama reality show, merupakan suatu ajang yang diadakan oleh salah satu pihak pertelivisian dalam pencarian bakat, khususnya dalam bernyanyi. Indikator-indikator untuk melihat faktor yang mempengaruhi keinginan masyarakat untuk menjadi selebritis melalui reality show dilihat dari: konsep acara, sistem penjurian, waktu jam tayang, antusiasme dari masyarakat terhadap acara tersebut. Kedua, keinginan masyarakat untuk menjadi selebritis, merupakan respon atau minat masyarakat yang timbul akibat tergiur oleh kehidupan para selebritis yang serba mewah dan berkecukupan. Indikator-indikator untuk mengukur keinginan masyarakat untuk menjadi selebritis adalah: potensi/bakat dalam diri, dan keinginan untuk memperbaiki kesejahteraan hidup.
Penelitian ini menetapkan target populasi yakni dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) dan masyarakat umum (sekitar).
Pengambilan sampel dilakukan dengan salah satu teknik nonprobability sampling yakni convenience sampling (pengambilan sampel menurut keinginan peneliti). Dalam penelitian ini, peneliti menetapkan 100 orang anggota sampel (responden).
Pengumpulan data penelitian dilaksanakan pada bulan April 2008 sampai dengan Mei 2008 pada lokasi seperti yang dijelaskan di atas. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan instrumen angket/kuisioner yang dirancang dan diadaptasi dari indikator sebelumnya. Instrumen penelitian disusun dalam skala rating (rating scale), dengan opsi jawaban pertanyaan sebanyak 4 pilihan (1,2,3,4).
Analisis data dalam penelitian menggunakan teknik statistik deskriptif yakni tabel-tabel frekuensi untuk mengukur secara deskriptif masing-masing variabel penelitian.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dari kuisioner yang disebarkan diperoleh data tentang karakteristik responden, yakni jenis kelamin, usia, pekerjaan dan semester. Mayoritas responden penelitian adalah perempuan sebesar 58 %. Di lihat dari segi usia responden paling banyak adalah berusia 18-25 tahun sebesar 97%. Umumnya responden berlatar belakang mahasiswa yakni 74 %. Dan dilihat dari semesternya mayoritas berasal dari semester I, yakni sebesar 48 %.
Kuisioner ini disebarkan pada mahasiswa UMSU dan masyarakat umum (sekitar). Sampel disebarkan dengan cara acak diantara para mahasiswa dan masyarakat seperti yang disebutkan diatas.
Instrumen keinginan masyarakat untuk menjadi selebritis mengandung 4 pertanyaan, yakni:
1. Saya mengikuti reality show karena ingin mengasah kemampuan
2. Saya mengikuti reality show karena ingin menjadi tenar/terkenal
3. Saya mengikuti reality show karena ingin kaya
4. Saya mengikuti reality show karena ingin membahagiakan kedua orang tua
Pembahasan
Setelah dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas, ternyata seluruh variabel penelitian ini memiliki item-item pertanyaan yang valid dan reliable.
Setelah data dianalisis diperoleh nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,45 menunjukkan arah yang positif, artinya ada hubungan searah antara reality show dengan keinginan masyarakat untuk menjadi selebritis.
Selanjutnya untuk menguji hipotesis digunakan nilai-nilai di dalam tabel berikut ini:
Tabel Penyelesaian
Koefisien korelasi (r)
0,465
Koefisien determinasi (r2)
0,2162
t hitung
6,233
Sig2-tailed
0,000
Taraf signifikan (a)
0,01
Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
H0: r=0 (tidak ada hubungan signifikan antara reality show dengan keinginan masyarakat menjadi selebritis)
Ha: r¹0 (Ada hubungan signifikan antara reality show dengan dengan keinginan masyarakat menjadi selebritis)
Kriteria yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah:
Hipotesis Penelitiannya: Ada hubungan reality show dengan keinginan masyarakat menjadi selebritis.
Jika korelasi (r) memiliki probabilitas sig-2 tailed < a0,01, maka Ho ditolak.
Jika korelasi (r) memiliki probabilitas sig-2 tailed > a0,01, maka Ho ditolak
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian ini terlihat bahwa reality show (indonesia idol) memiliki peranan yang cukup besar dalam menciptakan atau merangsang keinginan masyarakat untuk menjadi selebriti dengan cara cepat dan instan.
DAFTAR PUSTAKA
Drs. Abdulsyani, 1987. SOSIOLOGI kelompok dan Masalah Sosial,
Kartini, Sukma. Jual Mimpi Jadi Bintang. http://www.pikiranrakyat /cetak/ 0604/19/ 1105.htm..
Widyaningrum, Ari & Genuk Christiastuti. 2004. Reality Show: Tambang uang Baru Stasiun TV. http://wartaekonomi.com
Reality Show.http://www.kompas.com/kompascetak/0405/14/muda/1024717.htm.
Gerlach, V.S. & Ely, D.P. (1980). Teaching & Media : A Systematic approach.
Heinich, R., Molenda, M., & Russel, J.D. (1991). Instructional Media and the new
technologies of instruction.
